Pegawai Gajian Mencoba Investasi Dan Bangkrut

Memahami pemasukan dan pengeluaran merupakan bagian dari menata keuangan pribadi . Menata keuangan pribadi sendiri sebetulnya sederhana teorinya, namun dalam praktek, tidaklah mudah. Ada banyak nasehat yang masuk ke telinga kanan, namun hampir semua akan keluar ke telinga kiri. Nyaris tidak ada nasehat yang menyangkut di otak. Pelajaran menata keuangan pribadi biasanya terkondisi karena lingkungan sekitar, utamanya dari orang tua. Tapi yang patut digarisbawahi, situasi zaman orang tua kita tentunya akan ada perbedaan dengan situasi dijaman kita, sehingga penanganan pendapatan dan pengeluaran juga akan ada penyesuaian disana-sini. Selain orang tua, kita juga dapat mengambil pelajaran dari kisah orang lain. Lebih mudah jika kisah orang lain tersebut bisa kita dapatkan detailnya. Akan banyak ilmu yang didapat dari pengalaman orang lain tersebut. Efektif saat kita mencoba mencontohnya karena kita sedikit banyak mengetahui latar belakang, cara berfikir dan mungkin ada banyak kemiripan dengan situasi kita sendiri. Nah, dikesempatan ini saya coba mengisahkan kembali pengalaman nyata dari pribadi seorang penulis forum kompasiana, Ary Noer. Ary Noer dengan latar belakang pegawai gajian yang mencoba berinvestasi. Investasinya sendiri merupakan bagian dari keputusan besar dalam sejarah hidupnya  untuk cita-cita mendapatkan pemasukan yang lebih besar, passive income dan financial freedom, setelah mendapat dorongan dari membaca buku dan menjadi mahasiswa di salah satu university. Berikut kisah Ary Noer dari Catatan Tepi http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2012/11/20/hati-hati-dengan-teori-robert-t-kiyosaki-504577.html yang coba dikisahkan kembali disini https://pemimpinagung.wordpress.com dengan sedikit tambahan dan ulasan.

Ary Noer (di tahun 2012) :

” Pernah merasa bangkrut? Atau merasa dunia seakan gelap gulita? Saya rasanya pernah… Ketika melangkah kekiri, kekanan, kedepan, apalagi kebelakang … semuanya salah ! Tidak ada jalan yang terlihat, dan kaki juga tidak tahu harus dilangkahkan lagi kemana? Jika harus diam ditempat-pun –  itu juga salah! Semua berawal dari mencoba membuka usaha, dengan suatu harapan. Dan ketika waktu itu tiba, harapan itu hanya tinggal harapan kosong. Tidak ada rejeki yang didapat beberapa usaha yang sudah saya modali. Tidak ada pemasukan dan pahit jika menerima kenyataan menguapnya uang saya. Hutangpun membengkak karena bunga dan denda yang terus berjalan.

Dulu saya pernah membaca buku karangan Robert T Kiyosaki. Buku itu langsung menginspirasi dan meracuni otak saya. Salah satu pelajaran dari buku itu mengajarkan jika ingin kaya maka keluarlah dari pekerjaan, buka usaha dan lihatlah hasilnya. Saya juga memilik mentor yang memberikan saran luar biasa berani dan sejalan dengan buku Kiyosaki yang telah saya baca. Mentor saya bernama Purdie Chandra. Beliau adalah pemilik jaringan bimbingan belajar “Primagama”. Diatas BMW X5 beliau,  dalam suatu perjalanan Ke Yogyakarta, beliau menegaskan berkali-kali kepada saya, bahwa apapun pekerjaan kita, setinggi apapun jabatan kita, selama kita masih merupakan orang gajian, maka kita tidak patut berbangga karenanya. Setelah perjalanan berakhir dan tiba ditujuan, tepatnya di rumah beliau di kawasan Mirotta Godean Yogyakarta, beliau menantang saya untuk memilih. Pilih jadi pegawai saja atau memilih menjadi kaya raya dengan meninggalkan status palsu dan masuk ke pilihan sebagai pengusaha ?! Nasehat dan tantangan dari seseorang dengan profile yang saya kagumi tentunya akan membekas di benak saya.

Menjadi pegawai pada perusahaan minyak raksasa global sungguh membanggakan sekaligus melenakan. Saya merasa sebagai bagian dari kelompok masyarakat dengan peradapan diatas, merupakan bagian dari masyakat kelas dunia yang memiliki standar hidup tinggi, skill tinggi berkat pengasahan training terus menerus. Rasanya saya  lebih pintar dari orang lain, dan merasa lebih beretika dari orang-orang di tempat lain. Jadi diatas kertas saya merasa lebih tinggi dan terhormat dari orang lain, termasuk juga dari orang-orang yang bekerja di perusahaan serupa.

Disisi lain, saya berfikir bahwa suatu ketika akan datang masa krisis. Tidak mungkin roda selalu diatas. Begitu juga dengan zaman, termasuk juga perusahaan. Ada ancaman tidak kentara bagi saya sebagai orang gajian atau bayaran. Setelah melihat film Falling Down (Michael Douglas), The Pursuit of Happiness (Will Smith), Company Man (Jamie Lee Curtis), ada pelajaran hidup yang bisa didapat, bahwa  kesombongan orang bayaran yang merasa lebih tinggi dari lainnya, akan hancur hanya karena selembar surat PHK. Begitupun dengan perusahaan-perusahaan raksasa juga pada akhirnya akan tumbang karena krisis global. Tidak peduli meski perusahaan-perusahaan raksasa ini sudah memiliki sistem prosedur yang rapi,  atau memiliki karyawan-karyawan yang pintar dan patuh. Sementara diluar sana, dengan seleksi alam, akan muncul para survivor baru. Mereka adalah orang-orang yang mampu menciptakan, bukan sekedar menjalankan, dan mereka akan mampu melewati masa-masa sulit dimana perusahaan-perusahaan lain pada tumbang dan karyawan-karyawan menjadi pengangguran.

Setelah lulus dari Entrepreneur University, sebuah universitas unik yang digagas sendiri oleh Pak Purdie, dan memperoleh ijasah berupa sebongkah batu bertuliskan lulusan angkatan ke-12 yang hingga kini belum saya ambil, saya akhirnya nekad. Saya memutuskan untuk meninggalkan status pegawai saya pada salah satu perusahaan dunia yang terpandang. Pertimbangan utama saya saat itu adalah saya merasa suasana  di tempat saya bekerja seperti robot yang harus ikut pada aturan sistem yang ketat, dan sistem prosedur itu sudah ada sejak zaman dahulu, tidak berubah hingga sekarang.

Setelah mendapat dukungan permodalan dari Golden Shake Hand, dan pengalaman budaya angkuh dari perusahaan lama, juga ditambah  kenekatan setelah membaca buku Mr.Kiyosaki dan kicauan mentor Bapak Purdie Chandra, akhirnya saya membeli beberapa franchise. Franchise usaha yang saya pilih adalah yang secara statistik dan kalkulasi sudah pasti memberi keuntungan. Perhitungannya cermat dan dari pemikiran yang cerdas. Tidak ada yang bisa membantah pertimbangan-pertimbangan saya. Masuk akal semua, dan feasible. Hehehe ….. angkuh ya?!

Dan akhirnya dalam waktu sekejap  saya telah menjadi Presiden Direktur di holding usaha saya sendiri. Sungguh beda rasanya! Tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ada rasa kebanggaan disetiap tarikan nafas ketika melihat pengunjung datang satu persatu ke setiap tempat usaha kita. Ada senyuman dan perasaan berbunga ketika melihat konsumen membeli dan memberi pemasukan terhadap usaha kita. Dan ada luapan kegembiraan dan kebanggaan yang meledak-ledak disaat  mengetahui bahwa pemasukan itu lebih besar sedikit dari pengeluaran, dan ini artinya Usaha Saya Untung !!!

Serasa sudah tercapai tujuan paripurna saya. Pindah kuadran dari E (Employee) ke kuadran O (Owner) bisa saya lalui dengan lancar. Sementara saya juga belum merubah budaya lama saya saat masih di perusahaan minyak multinasional. Selalu dinaungi fasilitas berkecukupan, dan terlena dengan kenyamanan. Sepertinya tidak ada alasan bagi saya saat itu untuk melakukan evaluasi diri dan merubah cara hidup saya. Semuanya berjalan sesuai rencana.

Uang dari gajian yang masuk akan kita anggap sebagai hak kita sendiri secara penuh. Itulah budaya Employee. Begitupun uang yang masuk dari omset usaha kita juga serasa hak kita sendiri secara penuh. Itulah budaya Employee. Pemikirannya masih sama. Sepele memang. Dan akhirnya tanpa mau berfikir njelimet, tanpa terasa uang itu mengalir menjadi barang konsumsi, pemuas lahir batin melalui berbagai kesenangan seperti hiburan, kuliner, travelling, membeli segala model baru, gadget baru, tunggangan baru. Itu memang  gaya hidup lama saya dan belum dirubah setelah pindah kuadran. Ditambah fakta saat ini masih terkondisi hujan rejeki yang terus turun. Setelah belanja banyak, mengeluarkan uang banyak, terkadang saya mengevaluasi diri, dan saya jawab bahwa tidak ada alasan untuk merubah pola lama kebiasaan seperti saat masih menjadi pegawai gajian. Hujan rejeki itupun langsung digunakan sepenuhnya untuk mengguyur tubuh sendiri, segar rasanya. Alangkah nikmatnya hidup berkelimpahan. Hujan itu sama sekali tidak saya upayakan untuk ditampung di tandon-tandon, dan dipersiapkan bila musim kemarau tiba. Habis, hujannya tidak berhenti-henti.

Teori-teori yang saya dapat  pada akhirnya juga menjadi terbukti. Menjadi pengusaha itu bikin senang hati. Mau berangkat kantor jam berapa saja, tidak akan ada yang memarahi. Tidur-pun uang tetap mengalir masuk. Passive Income terus berjalan. Financial Freedom sudah dipelupuk mata. Bangga akan pencapaian saya. Bahkan saya bisa terbahak-bahak dibelakang seseorang, ketika orang tersebut mengaku sebagai petinggi di salah satu BUMN atau di perusahaan asing, dengan nada bicara yang diatur sedemikian rupa, sehingga terlihat anggun dan berwibawa, padahal dia hanya hebat karena jabatannya saja, dan tanpa jabatan itu dia bukan siapa-siapa.

Segala rumus-rumus bisnis mikro sudah dilaksanakan dengan disiplin. Namun ada situasi makro yang lebih tidak menentu. Maka, prediksi-prediksi para pakar tetap saya dengarkan. Gambaran ekonomi kedepan rajin saya baca dari berbagai media. Semuanya mengatakan pertumbuhan ekonomi oke, sosial politik berjalan kondusif.   Beberapa yang mengatakan waspada, tapi barangkali tidak kuat argumennya, sehingga diabaikan oleh pakar-pakar yang lain, termasuk juga saya. Saya menganggap orang yang berkata waspada ini mempunyai tipikal pesimis.

Hukum alam kuno nyatanya tetap berlaku. Ada pagi ada senja. Siapa yang mempersiapkan masa tidurnya maka dia akan mudah tidur nyenyak dan segar keesokan harinya dengan mendapati manfaat tubuhnya lebih banyak dari kemarin. Senja tidak dapat dihindari. Begitupun dengan keusangan. Sedemikian cermat kita merawatnya, keusangan tetap akan datang menghampiri. Setiap produk pasti akan mengalami rumus keusangan. Setiap pihak pasti akan tergiur dengan rejeki yang kita raih. Kompetitor akan berfikir dan bekerja siang malam mencari celah untuk merebut pundi-pundi emas yang selama ini menjadi milik kita sendiri. Harga, Model, Teknologi, Efisiensi, Distribusi, Promosi dan masih banyak lagi adalah formula-formula yang selalu coba ditawarkan kompetitor kepada konsumen meski sejatinya fungsi produk itu sama persis dengan yang saya jual. Setiap celah selalu dicoba oleh mereka secara terus menerus tanpa henti dan secara bergantian. Pada akhirnya, produk layanan saya tidak terhindarkan memasuki fase keusangan tersebut.

Selanjutnya kenyataan yang didapat adalah omset menurun, usaha terkalahkan pesaing,dan perlahan tempat-tempat usaha menjadi lebih lengang, kosong, stok berkurang, konsumen yang datangpun juga demikian. Omset yang sedikit demi sedikit menurun ini pada akhirnya menjadikan overheat cost tiba-tiba terasa melonjak dan berat. Berharap laba datang namun tidak kunjung terjadi untuk melegakan hati. Optimis selalu begitu rumusnya jika menghadapi situasi ini.

Ternyata tidak ada situasi yang menggembirakan dihari-hari selanjutnya. Semakin miris, meski berbagai upaya telah dilakukan. Tagihan suplier jatuh tempo disana sini. Telepon berdering bertubi-tubi tanpa ada jeda, dan berat sekali untuk dijawab. Saya lihat laporan pemasukan sudah tidak sebanding lagi dengan tagihan. Asupan tidak sebanding dengan energi dan ampas yang dikeluarkan. Maka yang terjadi saat ini adalah diare, dan akan menimbulkan dehidrasi, dan bisa dimungkinkan akan menghadapi kematian jika tidak ditanggulangi. Dan bom atom pun tiba saat datangnya pemilik property yang meminta perpanjangan sewa. Sebuah cost yang lumayan besar. Terpuruk, ciut pikiran dan hati. Tidak tahu harus optimis terus atau pesimis dengan situasi yang saya hadapi. Gelap yang didapat dan tidak tahu harus melangkah atau tetap berdiri ditempat. Jika harus melangkahpun,  juga tidak tahu harus kearah mana. Gelap total. Dehidrasi tidak bisa dihindari. Menghindari kematian juga tidak tahu caranya. Gelap, dehidrasi, dan lemas karena sudah tidak ada daya lagi untuk bangkit ataupun tetap berdiri ditempat. Titik nadir yang luar biasa dan rusaklah berbagai sisi tubuh.

Situasi sulit ini nyatanya tidak bisa kita bendung hanya sebatas usaha kita. Kehidupan pribadipun secara otomatis ikut terseret didalamnya. Sebetulnya ada iba dari teman dan keluarga dekat. Tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mendingan jika mereka masih mau mendengar keluh kesah kita. Sungguh dalam situasi seperti ini, kesediaan mereka mendengar kita adalah suatu hiburan yang melegakan dan menghibur hati.

Akhirnya saya merenung, menyadari dan mengakui dengan hati terbuka bahwa titik bawah itu sudah saya alami. Sudah saya alami bagaimana sakitnya. Titik nadir secara menyeluruh baik pribadi, keluarga, pekerjaan, dan kehormatan, dan lain-lain. Tidak punya kebanggaan, kerabat, teman, tetangga menjaga jarak, tidak punya pendapatan, kondisi kekayaan yang yang saya cita-citakan sudah jauh dari kenyataan. Jauh minus, benar-benar negatif dibawah titik nol kesetimbangan karena hutang menggunung dan tidak tahu lagi berapa jumlahnya. Pemberitahuan, peringatan denda, pinalty, sudah tidak saya hiraukan lagi. Kata orang, jagalah nama baik meski kita tidak punya apa-apa. Nama baik yang saya jaga selama ini dengan tidak berbuat tindak pidana apapun, nyatanya runtuh juga di mata masyarakat. Runtuh karena kebangkrutan ini dan perkara perdata biasa. Dan memang pandangan negatif masyarakat itu sama sekali tidak bisa kita bendung. Secara tidak langsung kita memang sudah tervonis oleh masyarakat dengan hukuman yang benar-benar menghancurkan reputasi, mental dan harga diri serta semangat sebagai energi untuk bangkit kembali.

Memang tidak ada yang bisa diperbuat dalam situasi gelap tanpa celah sedikitpun. Yang saya pikirkan dan terus berfikir adalah diamnya saya juga akan bikin hancur juga. saya berfikir melangkah juga tidak punya daya, dan tidak tahu lagi berjalan kearah mana. Jadi yang bisa diperbuat adalah menunggu dan berfikir keras sehingga tidak tahu harus berfikir apa. Yang penting masih ada upaya, yaitu berfikir. Titik nadir ini adalah merupakan bantingan keras  bagi saya untuk terjun kebawah.

Sekian lamanya menunggu bertahun-tahun dan setelah kesekian kalinya saya berfikir, dan berdoa, tiba-tiba saya membaca kemungkinan bahwa selama ada kelenturan, maka bisa jadi bantingan titik nadir saya ini bisa membuat saya terpantul. Terpantul keatas kembali, bahkan pantulannya bisa lebih tinggi dari titik saya semula. Jadi saya biarkan diri saya terhujam kebawah dengan keras. Tidak perlu dilawan. Allah yang Maha Kuasa-lah yang memberi energi dorongan saya kebawah ini dengan kerasnya. Dan saya siapkan hati yang lentur, entah itu hati saya sendiri, keluarga, para sahabat juga rekanan-rekanan kerja. Sebisa mungkin dipelihara prasangkanya. Saya juga mendatangi dengan teman-teman lama yang punya kisah peristiwa yang sama.

Dalam kegontaian semangat, ternyata ada tuntunan langkah saya menuju kediaman teman lama saya mempunyai toko yang terbakar pada peristiwa kerusuhan Mei 1998. Setelah mendengarkan kisah saya, ternyata teman saya ini tidak turut sedih atas peristiwa yang saya alami dan peristiwa hangusnya tempat usaha dia di Jakarta Barat yang habis terbakar dalam satu hari saja. Bahkan dia malah memberi nasehat kepada saya. “Bila seseorang sedang menjalankan kebajikan, maka tidak ada istilah bangkrut.   Bangkrut hanya terjadi pada orang yang tidak mendapat kepercayaan dari orang lain dan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Jika perusahaan kolaps, tempat usaha tutup, jualan tidak laku, itu namanya tidak bangkrut, melainkan lagi mengalami kerugian. Selama teman dekat mempercayai, relasi memahami, keluarga mendukung, kepercayaan diri masih ada, maka produk dan tempat usaha akan menjadi nomor sekian. Akan selalu ada produk yang bisa kita jual dan tawarkan meski awalnya produk itu bukan milik kita sendiri. Bangkrut itu artinya jika pembeli sudah tidak mau datang membeli ke kita dan suplier sudah tidak mempercayai kita untuk memegang produknya.

Jadinya saya kembali ke pertanyaan awal saya, pernahkah merasa bangkrut? Saya meralatnya menjadi saya belum pernah bangkrut. Karena nyatanya saya masih bisa melanjutkan hidup dengan keluarga saya, meski dengan kondisi pas-pas saja. Dan memang saya melangkah mundur karena harus kembali ke kuadran E.

Namun ada hikmah dibaliknya. Kesombongan saya, semasa di kuadran E (perusahaan minyak) dan kuadran O, menjadi sirna. Yang saya sadari, meski saya sudah bekerja kembali, maka saya sudah harus mempersiapkan masa krisis yang belum tahu kapan tibanya. Bisa saja, omset dimana saya bekerja menjadi turun dan esoknya saya sudah menerima surat PHK. Justru kita harusnya dalam posisi menunggu saat itu tiba, suka atau tidak suka.

Dimanapun posisi kuadran kita berada, baik itu pegawai atau pengusaha, kita juga tidak bisa pongah dan congkak. Itu semua bukanlah dikotomi  yang menunjukkan kelas sosial, arti kesuksesan, atau simbol kegagalan. Keberhasilan hidup itu justru diartikan kesiapan kita menjalani siang dan malam, hujan dan kemarau, diatas dan dibawah. Yang penting, saya sudah pernah mengalami kejadian nadir hidup saya, dan saya berjanji tidak akan mengulanginya.

Tentu saja ada yang tidak berubah pada diri saya. Nyatanya saya masih saja penasaran dengan apa yang telah ditulis oleh Mr.Kiyosaki dan tantangan yang diberikan Bapak Purdie Chandra. Ada kelimpahan yang diberikan dari kuadran pengusaha. Suatu saat saya akan membuktikannya. Tentunya pengalaman ini menjadi pelajaran untuk memperbaiki dan menghindari kesalahan-kesalahan yang telah saya perbuat. Insya Allah saya tidak takut jadi pengusaha karena tidak akan bangkrut sepanjang dijalan yang baik.

Rencana jangka pendek saya adalah saat ini saya menjadi pegawai, dan saya bahagia karena tidak takut dengan surat pemberhentian kerja yang akan menghampiri saya kapan saja. Saya siapkan diri untuk itu. Saya nikmati saja rutinitas bekerja siang malam dan tidur lelap dalam malam dan songsong pagi dengan kesegaran tambahan.”

Demikian cerita satu perjalanan hidup dari ari Ary Noer, yang akan dibedah hanya untuk pembelajaran kita semua.

Saat ini Ary Noer sudah mencoba kembali ke jalur Entrepreneur UKM. Bedanya kuadran “E” masih belum ditinggalkan. Kuadran ganda yang dijalankan.

Budaya atau kebiasaan adalah bukan perkara mudah untuk dirubah. Atasan saya di Kementerian Keuangan Jakarta pernah mengatakan, waktu yang dibutuhkan untuk meningkatkan skill seseorang cukup 5 tahun saja. Namun waktu yang dibutuhkan untuk merubah kebiasaan seseorang adalah 15 tahun atau lebih atau bahkan gagal sama sekali. Pemerintah Tionghoa saja membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mempersiapkan budaya masyarakatnya dari ekonomi tertutup menjadi ekonomi terbuka. Pemerintah Indonesia pernah mengkaji program Golden Shake Hand untuk pensiunan aparaturnya. Namun tidak jadi dikarenakan kekhawatiran kebiasaan hidup yang sudah terpola bertahun-tahun dengan pendapatan bulanan. Tentu bukan salah Mas Noer yang jika tidak merubah pola hidup yang berbeda disaat masih bekerja di perusahaan pertambangan dan disaat memasuki kuadran pengusaha/investor.

Seorang konsultan Bp.Iman Supriyono, SNF-Surabaya mempunyai resep fokus pada profesi lama untuk kasus seperti  Mas Noer. Namun diiringi dengan investasi dengan cara tertentu dan dengan pola pemikiran tertentu pula.

Sedangkan dari tulisan-tulisan konsultan Bp.Yodhia Antariksa, atau konsultan-konsultan lainnya, sah-sah saja langsung loncat ke kudran berbeda, apalagi pengalaman Yodhia sendiri juga demikian, dan berhasil dilalui.

Bagi saya pribadi, senang melihat Mas Noer tidak menyalahkan siapa-siapa, termasuk Mr.Kiyosaki atau Bp.Purdie. Bahkan masih tetap penasaran dan masih punya semangat untuk mewujudkan tantangan yang diberikan Mr. Kiyosaki dan Bp.Purdie Chandra. Hanya saja, bisa dibilang nekad jika pindah kuadran namun produk yang dijalani sangat berbeda. Pada kuadran E, Mas Noer menekuni bidang pertambangan minyak. Namun saat berada di kuadran Owner, Mas Noer menekuni bidang advertising, food and beverage. Bidang-bidang yang bertolak belakang. Setiap sub bidang usaha itu sendiri, untuk mencapai masa berbuah atau untuk mendapat ilmu atau untuk mendapat ketrampilannya, akan dibutuhkan jam terbang pengalaman dari pemilik dan timnya minimal 10.000 jam (masukan dari Bp. Tanadi Santoso). Memang ada beberapa pengecualian sosok-sosok yang mampu loncat sana-loncat sini dengan selamat dan sukses. Tapi bagi saya itu jangan dijadikan standar, karena itu adalah anomali, dan tidak setiap orang bisa mencontohnya.

Kemudian untuk situasi kerja di perusahaan besar, dimana karyawan merasa seperti diperlakukan sebagai robot, dengan standar prosedur yang ketat. Tentu hal ini wajar pada budaya kerja organisasi besar demikian. Tujuannya agar organisasi tersebut bisa beroperasi, dan hal ini perlu dilakukan pembagian beberapa macam pekerjaan yang didelegasikan pada beberapa macam pekerja. Ada yang didelegasikan untuk berfikir, ada yang didelegasikan untuk mengawasi, juga ada yang didelegasikan untuk bekerja saja. Karena kewenangan Mas Noer hanya bekerja saja, otomatis Mas Noer merasa diperlakukan seperti robot. Dan sebetulnya perasaan itu tidak akan timbul jika seseorang tidak mencapai kedewasaan berfikir tertentu. Orang seperti ini akan bahagia jika bekerja sesuai prosedur yang ada, prosedur yang sudah jelas dan detail. Kelebihannya Mas Noer adalah Mas Noer sudah melampaui titik kedewasaan yang berbeda dengan  peran yang sedang dijalaninya di perusahaan multinasional tersebut. Otomatis tingkat kebahagiaan Mas Noer akan menurun, meski fasilitas perusahaan sudah lebih dari mencukupi.

Untuk masalah angkuh, bangga diri, dan sombong, itu masih manusiawi, karena memang posisi dan pendapatan Mas Noer sudah jauh melebihi dari rata-rata orang Indonesia atau bahkan berada di dalam strata atas dari 7 Milyar penduduk bumi. Bahkan bisa jadi perasaan harus unggul ini adalah modal utama saat memasuki kuadran baru atau produk baru. Seperti yang selalu dipersiapkan John Welch – CEO General Electric ketika akan masuk ke sektor industri baru, maka dia harus memastikan mampu unggul terlebih dahulu. Namun bisa juga sombong bisa mendatangkan malapetaka. Contohnya terlalu banyak jika kita lihat di masyarakat. Kesadaran diri atas adanya kekuatan lebih besar yang bisa datang sewaktu-waktu, baik itu baik atau buruk, dan menyadari peran-peran yang dijalankan berbagai orang, itu barangkali adalah kekuatan baru Mas Noer dan mungkin kebahagian bisa didapatkan dari kesadaran ini.

Apakah ada yang salah dari bukunya Robert Kiyosaki atau Ajakan Purdie Chandra? Menurut saya tidak ada yang salah. Jika memang mampu, memang sebaiknya membayar penasehat-penasehat  yang akan mendiagnosa kemampuan kita. Saran-saran dari Kiyosaki masih bersifat universal, dan masih perlu penyesuaian pada setiap individu. Upaya Mas Noer langsung mendapatkan mentor dari Pak Purdie juga sudah baik. Jadi harapannya akan ada nasehat yang lebih spesifik menyesuaikan kelebihan dan kekurangan Mas Noer.  Tapi bagi saya pribadi, nasehat yang tajam adalah yang berasal dari penasehat-penasehat yang bekerja untuk saya pribadi, dibayar sepenuhnya oleh saya, dan mereka telah melakukan diagnosa terhadap kekuatan dan kelemahan saya. Sedangkan mentor dan guru tetap diperlukan, namun fungsinya disini sebagai bantuan dalam menyusun visi kita. Tidaklah mungkin meminta waktu beliau-beliau dalam porsi besar untuk meng-coach kita. Sementara konsultan-konsultan independen bisa juga kita minta sarannya untuk second opinion dan tambal-sulam perencanaan  yang sedang kita buat.

Masalahnya adalah tidak mudah bagi kita untuk mendapatkan seorang guru dan mentor. Tapi nasehat dari Tung Desem Waringin, bisa jadi panduan bagi kita, bahwa jika mencari guru, carilah orang yang terbaik di bidang yang akan kita terjuni.

Begitu juga dalam membentuk tim penasehat pribadi. Butuh tahunan untuk menemukan sosok-sosok yang cocok dengan kita.

Lalu bagaimana jika kita tidak mempunyai guru dan tidak punya uang untuk membayar penasehat pribadi dan konsultan? Jawabannya adalah mencoba belajar sendiri dari sana-sini, online maupun offline, dan harga yang harus dibayar adalah waktu. (original:pemimpinagung.wordpress.com)

Rancangan Finansial Pribadi Masa Depan

Ada banyak nasehat, jika berkaitan dengan keuangan pribadi. Salah satunya yang sering kita  dari kecil adalah jangan lebih besar pasak daripada tiang atau   hemat pangkal kaya, dan lain-lain. Sederhana nasehatnya, namun kenyataannya tidak semua orang bisa melakukannya.

Seiring berjalannya waktu, dengan bertambahnya wawasan, dan juga tuntutan, serta kebutuhan-kebutuhan yang lain, maka sebagian mulai menyadari, bahwa tabungan saja tidak cukup. Deposito pun juga tidak cukup menjawab keinginan dan tuntutan. Maka yang terjadi kemudian adalah demam entrepreneur atawa kewirausahaan.

Peristiwa-peristiwa investasi bodong pun bermunculan seiring demam kewirausahaan tersebut. Korban tidak sedikit. Sebagian juga ikut wirausaha namun merasa masih jalan ditempat, meski telah mengeluarkan keringat dan modal yang tidak sedikit.

Dunia ternyata memang piramida. Seleksi alam yang menfilter siapa yang pantas berada dipuncak, ditengah, ataupun dibawah. Ada juga yang mengatakan sebagai hukum pareto, yaitu 20% orang yang ada dipuncak dan 80% lainnya ada dibawah.

Lalu upaya apa saja yang sudah dilakukan oleh mereka yang ada di finansial posisi atas? Ada beberapa buku yang mengulasnya. Namun bagi saya pribadi, tidak ada yang baku. Karena kenyataannya sangat banyak jalan untuk melakukan lompatan finansial.

Akhirnya memang harus diawali dari niat, jika akan mulai langkah pertama. Niatnya seperti apa ya?! Tergantung masing-masing individu dengan latar belakang yang juga menyesuaikan. Ada yang hanya berkeinginan cukup buat memenuhi  kebutuhan pokok dan sekunder. Ada yang ingin keuangannya bisa untuk ketenaran, kekuasaan. Ada lagi yakni untuk sesuatu yang bisa bermanfaat menurut pribadi yang bersangkutan.

Akan lebih mudah jika niat itu bisa terukur capaiannya. Contohnya, untuk membantu membuat blue print masa depan, maka diambillah standar dari Securities and Exchange Comission (SEC) Amerika Serikat. Standar ini sebenarnya disyaratkan buat seseorang yang akan masuk jadi investor. Namun standar ini bisa digunakan sebagai angan-angan yang perlu diperjuangkan agar terealisir. Tool yang bisa diukur juga.

Adapun angan-angan finansial berdasarkan SEC itu adalah:

  1. Pendapatan Tahunan Minimal US$200.000 (bujangan) atau US$300.000 (menikah);
  2. Memiliki Kekayaan Bersih Minimal US$1.000.000

Lalu bagaimana mewujudkannya? hmmm……… seperti yang sudah disebutkan diatas. Ada jutaan cara yang mungkin juga harus menyesuaikan dengan jaman dan kondisi. original: pemimpinagung.wordpress.com

Prinsip Melawan Arus Menurut Warren Buffet

Warren Buffet, top three investor, adalah satu diantara sedikit investor yang menganut prinsip sederhana.”Takutlah pada saat orang lain  bersemangat, dan sebaliknya, bersemangatlah ketika orang lain pada ketakutan !” Prinsip tersebut dikenal dengan nama Contrarian atau Melawan Arus.

Warren Buffet sendiri menguraikan prinsip contrarian dalam tujuh hukum:

  1. Jangan mengikuti langkah orang kebanyakan !
  2. Berpegang teguh pada prinsip investasi yang benar !
  3. Jangan simpan telur di banyak keranjang !
  4. Jangan mengandalkan pendapat orang lain !
  5. Jangan sering mengambil keputusan berdasarkan insting !
  6. Jangan berinvestasi dalam jumlah kecil !
  7. Berfikir setiap aksi investasi adalah untuk selamanya !

Tidak mengikuti langkah orang kebanyakan artinya mengabaikan kecenderungan pasar, kecenderungan orang kebanyakan, mengabaikan trend, juga mengabaikan booming sesaat.

Prinsip investasi yang benar yang dimaksudkan disini adalah investasi yang bisa berlaku untuk jangka panjang, fundamental, dan bukan merupakan perjudian.

Pada umumnya orang-orang menganut prinsip taruh telurmu pada banyak keranjang, berlawanan dengan taruh telur-telur investasimu pada satu keranjang. Alasan warren buffet adalah agar memudahkan kita dalam mengawasi telur- telur tersebut. Mengawasi investasi itu adalah tugas investor dan bukan sekedar tanam aset dimana-mana.

Jangan mengandalkan pendapat orang lain bukan berarti tidak percaya. Riset sendiri atau analisa sendiri sehingga menghasilkan keyakinan sendiri itu jauh lebih utama. Second opini seringkali memang dibutuhkan, namun opini orang lain tentunya belum tentu sesuai dengan yang kita butuhkan.

Insting memang merupakan salah satu pendorong lahirnya suatu keputusan. Banyak yang mengandalkannya. Namun bagi Buffet, insting justru ditekan perannya. Hasil riset adalah lebih utama.

Dalam suatu paket investasi, pada umumnya ditawarkan share kepada begitu banyak orang, sehingga resiko masing-masing individu akan semakin kecil dan pendanaan paket tetap dapat terpenuhi. Tidak demikian bagi Buffet. Kendali terhadap paket tersebut sangat sangat sangat penting. Bukan semata-mata hanya menekan resiko.

Setiap aksi investasi adalah untuk jangka panjang, bahkan bisa juga untuk dimiliki selamanya. Karenanya dalam hal ini memelototi pergerakan harga saham justru tidak disarankan.

Jadi, melawan arus tidak berarti jelek bukan ?!

Gunung Tambora

Hari ini, Sabtu 11 April 2015, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menghadiri peringatan 2 abad letusan Gunung Tambora sekaligus pencanangan Taman Nasional Gunung Tambora. Acara tersebut diselenggarakan di tengah padang savana yang sangat luas, tepatnya di kaki gunung yang secara administratif berada di  Desa Doro Ncanga Kabupaten Dompu, Pulau Sumbawa.

Letusan Gunung Tambora Tahun 1815 sendiri termuat dalam catatan salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda terkenal, Sir Stamford Raffles. Sang Gubernur Jenderal selanjutnya mengutus Letnan Philips ke Pulau Sumbawa untuk meliput peristiwa pasca letusan.

Letusan Gunung Tambora menyebarkan debu pekat dari Nusantara hingga ke daratan Eropa (debu datang 3 bulan kemudian di daratan Eropa Barat). Akibat debu pekat di udara dan menjadi lumpur becek setelah jatuh bercampur air di tanah, disinyalir menyebabkan tidak jalannya strategi pasukan darat Perancis dibawah pimpinan Jenderal Napoleon melawan Pasukan 7th Coalition dibawah pimpinan Duke of Wellington (Inggris) dalam perang Waterloo – 1815.

Lebih menarik lagi, letusan Gunung Tambora sendiri adalah menjadi sebab akhir dari masa kampanye militer untuk selamanya dari Jenderal Besar Napoleon Bonaparte yang juga merangkap jabatan sebagai Kanselir Perancis seumur hidup serta jabatan sebagai Kaisar Kerajaan Perancis.

Letusan Gunung Tambora 1815 turut menjadi sebab terjadinya  perang penutup dari perang 2 abad antara Perancis dan Ingris.

Bagi Indonesia, letusan Gunung Tambora menjadi sebab masa peralihan kekuasaan atas wilayah Indonesia (dahulu Hindia Belanda) dari Negara Superior  Perancis kepada  Inggris beserta Aliansinya.

Bagi Dunia, letusan Gunung Tambora 1815, menjadi perubahan pemimpin negara hampir di seluruh eropa dan dunia, karena runtuhnya imperium Perancis yang mempunyai banyak koloni di seluruh dunia, termasuk juga merubah konstelasi ekonomi, militer, politik dan memunculkan negara superpower dunia yang baru-Inggris.